Jumat, 12 Desember 2014

Eh? Scholarship? Keluar Negeri?






Sesuatu yang spesial dari tutorial PAI? Yang bisa menginspirasi aku? Hmm apa ya? Memangnya ada? Hehe. Awalnya memang aku pikir “mungkin” hampir tak ada. Ya semuanya berlangsung begitu saja, biasa. Kegiatan yang bagus but nothing special for me.
Suatu hari, pada pertemuan tutorial yang kesekian, entah terasa berbeda. Saat itu bertempat di taman KHD. Mungkin berbeda karena tak biasanya kami berkunjung ke fakultas sebelah ya? Hehe. Sayangnya tak banyak yang bisa hadir dalam tutorial siang itu karena berbagai urusan yang harus mereka selesaikan. Akhirnya hanya kami berlima dan ditemani mbak Risca tentunya, walaupun waktunya agak “ngaret” dari yang kami rencanakan. Berhubung hanya sedikit yang datang, tutorial PAI berubah menjadi ajang sharing dadakan. Mulai dari membahas pengalaman UTS pertama, kedekatan dengan orangtua hingga pengalaman mbak Risca saat berkunjung ke Malang untuk mewakili universitas beberapa waktu lalu. Ya tentunya juga ditemani oleh-oleh bawaan mbak Risca yang enak itu hehe.
Sampai akhirnya topik pembicaraan kami beralih ketika mbak Risca beranjak menanyakan sesuatu. “Dek, kalian punya keinginan kuliah keluar negeri?”, tanyanya. Deg. “Siapa yang tak mau, hampir semua orang pasti mengiginkannya.” batinku. Kami secara spontan serentak mengiyakan pertanyaan itu. “Huh tapi itu mungkin impian yang terlalu tinggi.” batinku lagi sambil menghembuskan  napas. Wajah yang berbinar berubah menjadi pucat. Sepertinya semua yang berada disitu memiliki pikiran yang sama denganku, kecuali “mbak tutor” kami. “Eh jangan salah,... nggak ada yang nggak mungkin kok” Kami menatap dan mendengarkan dengan saksama sumber suara itu, yang tak lain adalah “mbak tutor” kami sendiri. Mbak Risca mulai bercerita lagi, sekarang tentang alasan kenapa dia terlambat datang beberapa menit lalu. “Bertemu mahasiswi asal China, wow!” Tentu semuanya terkaget ketika mendengar hal itu. Ya kami sudah mengetahui sebelumnya bahwa “mbak tutor” kami ini memang ingin sekali pergi kesana. China. Semua pasti ada hubungannya. Terlepas dari cerita pengalaman seru bertemu mahasiswi asal China itu, pelajaran pertama yang dapat diambil yaitu “Melakukan sesuatu walaupun hal kecil sekalipun untuk menjadikan mimpi bukan sekadar impian akan tetapi benar-benar bisa menjadi kenyataan.”. Setelah mendengar cerita mbak Risca, aku belajar bahwa “mbak tutor” kami ini tak hanya diam menunggu dan membayangkan kapan hari itu dapat terjadi namun ia sudah mulai bergerak untuk mewujudkannya karena mungkin ia tahu impian tak datang sendirinya tapi ia sendirilah yang harus berusaha menggapainya.Wah!
Berbeda dengan mbak Risca, China bukanlah tujuanku. Akan tetapi mungkin kami punya pendapat yang sama tentang Scholarship. Tak perlu satu atau dua tahun, seminggu atau dua minggu itu sudah cukup yaitu dengan Scholarship. Percakapan kami pun terus berlanjut membicarakan tentang kemungkinan persyaratan yang akan diajukan untuk mendapat Scholarship, cara mendapatkan suntikan dana untuk Scholarship itu dan langkah-langkah kecil yang harus kita lakukan sebelum melakukannya. “Eh TOEFL lebih dari 550? IPK dengan angka sekian? Ini itu...? Bisa nggak ya?” Lagi-lagi “mbak tutor”  yang sudah membimbing kami hampir dua bulan ini meyakinkan bahwa “kami pasti bisa”. “Kunci utamanya adalah optimis”, ungkapnya. Kami pun menelan ludah dalam-dalam. Seperti kalimat yang pernah terlontar dari animator ternama yaitu Walt Disney, “Semua mimpimu akan terwujud asalkan kamu punya keberanian untuk mengejarnya.” Ya itu benar.
Dari pertemuan tutorial PAI waktu itu, mungkin aku sedikit tersadar. Sadar bahwa aku harus membuang semua ketakutan dan rasa pesimis itu. Meyakini bahwa alasan kegagalanku beberapa waktu lalu mungkin karena ketakutan dan rasa pesimis yang berlebihan sehingga sekarang tak ada alasan untuk mengulanginya lagi. Salah seorang menteri AS pun pernah berkata, “Sebuah mimpi dapat terwujud bukan karena keajaiban, melainkan karena keringat dan kerja keras.” Ya sekaranglah waktunya. Belum terlambat untuk membangun mimpi itu menjadi hal yang tak mustahil bagiku. Aku tak ragu lagi menulisnya dalam daftar mimpi makroku. Scholarship? I know I can!



Rabu, 19 November 2014

Ujian Tengah Semester Perdana




Beberapa minggu lalu, saya dan teman-teman mahasiswa baru yang lain telah selesai melaksanakan UTS perdana kami. Tentu hal ini menjadi pengalaman baru. Banyak hal yang terasa berbeda antara bangku perkuliahan dan bangku sekolah. Mungkin perbedaan yang sangat jelas adalah tak adanya pengaturan jadwal UTS di UNY. Berbeda dengan universitas lain seperti UGM dan UIN yang telah menggunakan sistem jadwal. Apalagi ketika di bangku sekolah, sistem jadwal selalu digunakan. Saya heran mengapa UNY tidak menggunakan jadwal untuk pelaksanakan UTS dengan hanya memberi rentang waktu selama dua minggu saja. Memang dalam pengaturannya akan sedikit rumit tapi bukankah jadwal akan memudahkan mahasiswa untuk mengatur kegiatan belajar mereka. Teman-teman asrama saya yang kuliah di UIN, mereka bisa berangkat siang dan pulang lebih awal ketika UTS. Tentu saja hal ini sangat bermanfaat karena akan mempermudah dalam membagi waktu belajar. Dibanding kita yang harus kuliah full seperti hari-hari biasa lalu malam harinya kita harus belajar untuk UTS di esok hari. Disisi lain dalam UTS kemarin, sempat dua kali terjadi miss communication antara dosen dan mahasiswa mengenai pelaksanaan UTS. Sebelumnya telah terjadi kesepakatan di antara kami untuk melaksanakan UTS di minggu kedua. Akan tetapi, tiba-tiba di minggu pertama saat perkuliahan berlangsung, dosen mengumumkan bahwa hari itu UTS dilaksanakan. Tentu saja saya dan teman-teman belum menyiapkan apa-apa.
Hal kedua yang terasa berbeda adalah berlakunya sistem Open Book. Saat UTS di bangku sekolah, jangan harap sistem ini bisa diperbolehkan. Akan tetapi, saya lebih senang menggunakan sistem Close Book karena pasti bobot soal yang diberikan akan lebih rendah dari pada Open Book. Mungkin teman-teman yang lain akan lebih senang dengan sistem Open Book karena kita tak perlu repot-repot belajar. Akan tetapi menurut saya, percuma saja karena bobot soal ketika Open Book akan lebih tinggi dan biasanya materinya secara tersurat tidak akan ditemukan di buku. Jadi kita harus menyimpulkannya secara tersirat.
Perbedaan ketiga adalah jarak bangku dalam kelas yang berdempetan. Saya ingat bahwa ketika UTS di SMA, meja masing-masing anak akan dipisahkan sejauh satu meter sedangkan sewaktu di SMP, murid kelas 1 akan duduk bersebelahan dengan kelas 2 sehingga masing-masing anak pada tingkatan yang sama akan terhalang anak lain yang berbeda tingkatan jadi kegiatan contek-mencontek bisa diminimalisir. Saya bukan anak yang suka mencontek maupun diconteki karena pengalaman buruk sewaktu UN SD yang pernah saya alami. Saat itu saya memberi contekan kepada teman saya dan sewaktu pengumuman justru saya mendapatkan nilai lebih rendah dari teman saya itu. Sejak saat itu, saya tidak suka mencontek ketika ujian hingga saya SMA. Namun semasa UTS kemarin, bodohnya saya karena saya sempat berpikir kalau mencontek terkadang juga diperlukan. Seperti sewaktu UTS Akuntansi dilaksanakan, UTS Akuntansi seharusnya dilaksanakan pada minggu kedua akan tetapi tiba-tiba dilaksanakan pada minggu pertama. Saya belum ada persiapan sama sekali dan dengan basic IPA yang saya miliki, saya masih dalam tahap mempelajari akuntansi secara dasar. Dan ketika dihadapkan dengan kondisi seperti itu, bodohnya saya yang tak percaya dengan kemampuan saya sendiri. Melihat teman-teman lain yang mulai saling berdiskusi. Saya pun melakukan demikian. Saya merasa menjadi orang yang munafik.
Saya merasa mengkhianati diri saya sendiri di UTS perdana ini. Beberapa mata kuliah tidak saya kerjakan dengan hasil pemikiran saya sendiri. Saya seperti bukan saya yang dahulu. Dulu semasa sekolah, sesusah apapun soal ulangan yang saya hadapi maka insyaAllah saya mengerjakan murni dengan kemampuan saya. Saya pikir percuma ketika saya mendapat nilai bagus akan tetapi dari hasil mencontek dan akan lebih baik mendapatkan nilai standar tapi menggunakan otak kita sendiri. Saya merasa seperti terjadi kemunduran pada diri saya. Saya menyesal melakukan hal itu dan insyaAllah saya berkomitmen untuk tidak melakukannya lagi ketika ujian. Amin!
Saya berharap bisa mendapat nilai yang bagus di UTS kemarin walaupun proses yang saya jalani sungguh mengecewakan. Saya berharap bisa mengambil pelajaran dari UTS perdana ini dan semua sisi buruknya bisa saya hilangkan untuk tidak saya lakukan di UAS yang akan datang. Amin! Fighting!

Seberapa Dekat Hubungan Saya dengan Orang Tua




Bapak saya bernama Muh Aslam dan ibu saya bernama Rohmah. Jika ditanya mengenai sejauh mana kedekatan saya dengan mereka, jujur saya agak bingung untuk mulai menjelaskannya. Akan tetapi, satu hal yang saya yakini bahwa saya sangat bersyukur menjadi anak kandung mereka.
Muh Aslam adalah seseorang yang selama 17 tahun ini saya panggil dengan sebutan “Bapak”. Menurut saya, beliau bukan hanya memerankan figur seorang bapak akan tetapi beliau juga merangkap posisi sebagai seorang sahabat. Beliau memang cenderung memiliki cara yang “keras” dalam mendidik anak-anaknya. “Keras” dalam hal ini bukan berarti menggunakan kekuatan fisik akan tetapi ketegasan yang dilandasi dengan komitmen kuat. Walaupun bapak adalah pribadi yang keras tapi beliau juga punya sisi lembut layaknya seorang ibu. Dari luar memang bapak kelihatan seperti acuh tak acuh akan tetapi sebenarnya beliau peduli dan memikirkan segalanya. Ya menurut saya, bapak adalah orang tua yang unik. Suatu ketika saya bisa tertawa terkekeh mendengar guyonan beliau namun di waktu yang berbeda, saya bisa menangis tersedu melihat ketulusan sikap beliau.
Saya dan bapak sering mengalami beda pendapat. Sewaktu kelas X, saya berkeinginan mengambil program studi ilmu sosial sebagai langkah lanjutan saya. Akan tetapi keputusan tersebut ditolak oleh bapak saya. Saya bahkan sampai harus berganti angket pilhan jurusan sebanyak tiga kali karena bapak saya tetap tak mau menandatanginya. Bapak ingin saya melanjutkan ke program studi ilmu alam karena “konon” akan lebih gampang ketika akan masuk bangku perkuliahan. Sempat tersirat di pikiran saya bahwa keputusan bapak itu benar-benar tidak adil. Dalam hal ini, saya lah yang akan menjalani semuanya dan seharusnya saya lah yang punya hak untuk memilih. Dan akhirnya keputusan yang saya ambil adalah melingkari tulisan “Ilmu Pengetahuan Alam”  yang ada di angket. Saya pasrah. Baiklah, asalkan orang tua senang. Tantangan selanjutnya yang harus saya hadapi adalah pelajaran fisika karena saya benar-benar tidak menyukai pelajaran tersebut, Di sisi lain, saya harus mendapatkan skor yang tinggi untuk mendongkrak nilai semester awal ipa saya yang rendah. Lucunya, belajar fisika membuat saya sampai menitikkan air mata. Memang alay. Singkat cerita, alhamdulillah saya bisa masuk program studi IPA. Saya ingat betul betapa bahagia dan leganya saya saat mendapat kabar itu. Saya tak sabar memberitahu bapak. BE, THAT’S WHAT YOU WANT! Terkadang memang saya tak sengaja memanggil Bapak dengan “Babe.” Kisah itu terulang kembali ketika saya menginjak kelas XII namun dalam konteks yang berbeda. Kala itu mengenai jurusan yang akan saya ambil di perkuliahan. Pola pikir saya berubah. Menurut saya, anak IPA ya seharusnya memilih jurusan yang berbau IPA. Awal kelas XI, saya memang tertarik untuk terjun di bidang desain. Arsitektur. Jurusan itu yang selama hampir setahun terngiang di pikiran saya. Saya pun juga sudah membuka hati terhadap pelajaran fisika. Namun bapak tetap ingin anaknya memilih jurusan ekonomi. Memang terdengar aneh. Dulu saya dipaksa untuk masuk IPA dan sebaliknya saat itu saya disuruh untuk memilih bidang ekonomi di perkuliahan. Tentu semuanya bukan tanpa alasan. Saya kembali menuruti keinginan orang tua dengan memilih program studi Manajemen sebagai pilihan pertama dan saya menyisipkan program studi Arsitektur untuk pilihan kedua. Singkat cerita, saya tak lolos dalam keduanya namun saat ini saya bersyukur telah menjadi mahasiswi Manajemen UNY. Cerita ini sudah saya ceritakan berulang kali dan banyak teman-teman saya berpendapat bahwa bapak saya terlalu otoriter. MAY BE YES. Akan tetapi justru karena hal ini, saya memperoleh banyak pelajaran hidup. Nilai yang saya ambil ketika saya dapat membahagiakan orang lain ternyata lebih berarti daripada ketika saya bersihkeras memenuhi ego pribadi. Saya pernah mendengar ungkapan bahwa ridha Allah adalah ridha orang tua. Saya kira saya akan down ketika benar-benar harus menjalani kelas IPA murni akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Saya yakin lantaran ridha dari orang tua saya maka Allah ridha sehingga jalan saya pun dipermudah. THANKS, BE! YOU MAKE MY LIFE SO COLORFUL!
Bapak mengajarkan saya bagaimana menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat, membuat manajemen waktu yang baik, membeli barang sesuai kebutuhan, menahan emosi, bersikap rendah hati, memberi kepada orang yang membutuhkan dan banyak hal lain yang tak cukup untuk saya tulis satu per satu. Hmm menyinggung masalah kedekatan, ibu saya sendiri pernah berkata bahwa saya lebih dekat dengan bapak daripada ibu saya. Saya bangga mempunyai bapak seperti Muh Aslam. HE IS BEST FATHER IN THE WORLD! Saya sangat menyayangi beliau dan saya yakin rasa sayang beliau juga berlipat untuk saya. Saya berharap bisa membahagiakan beliau suatu hari nanti. Semoga beliau bisa menemani saya di sepanjang sisa hidup saya. BABE, LOVE YOU! <3

Jujur sebelum saya menulis paragraf baru, air mata saya sudah datang mendahuluinya. Rohmah, wanita yang dengan sabar selama sembilan bulan mengandung saya. Di mata saya, Ibu adalah pribadi yang sangat penyayang dan penyabar. Disisi lain, Ibu saya adalah seseorang yang lebih meninggikan kedudukan akhirat dibanding urusan duniawi. Jika saya dan bapak sering berbeda pendapat mengenai masalah akademik maka berbanding terbalik dengan ibu, saya dan ibu lebih sering berdebat mengenai urusan yang berhubungan dengan agama. Sewaktu saya masih SMP, saya belajar mengaji di suatu pondok pesantren. Waktu itu saya agak kewalahan menjalani rutinitas harian saya. Saya harus berangkat sekolah pukul 7 pagi dan pulang hingga pukul 3 sore. Setelah itu, pukul 4 saya harus berangkat ke pondok pesantren dan baru pulang selepas maghrib. Saya pulang ke rumah dengan setumpuk tugas sekolah yang sudah menanti. Beberapa kali saya sempat memutuskan untuk bolos mengaji karena saya pikir mengaji tak harus datang ke Pondok Pesantren, di rumah pun saya tetap bisa mengaji. Ya bedanya ketika di pondok akan diberi pelajaran mengenai kitab-kitab juga. Hingga akhirnya ibu menegur perilaku saya, “Semua yang kamu pelajari di sekolah itu tidak akan ditanyakan oleh Allah di akhirat nanti. Jika kamu hanya mementingkan sekolahmu, Ibu nggak ridha, dek.” Akhirnya saya kembali mengikuti kegiatan mengaji di Pondok Pesantren hingga saya ujian dan khatam pada tahun 2010 bersamaan dengan lulusnya saya dari jenjang SMP. Ya walaupun dengan nilai ujian pondok yang pas-pasan tapi tetap saya syukuri. Alhamdulillah.
Ibu adalah orang yang kurang setuju saat saya berniat untuk lanjut kuliah setelah lulus SMA. Sewaktu saya diterima di program diploma salah satu universitas di Yogyakarta, ibu berkata bahwa sebenarnya ibu tidak setuju melepaskan saya untuk kuliah. Sebenarnya ibu tak sengaja berkata demikian karena takut memberatkan hati saya karena ibu mengira saya akan mengambil kesempatan itu. Akhirnya sewaktu saya diterima di UNY, ibu memberi ijin. Mungkin karena saat itu juga ibu telah melihat kesungguhan saya untuk kuliah. Ibu berkata, “Ibu ikhlas kamu kuliah tapi kamu juga harus mondok. Ibu nggak ridha kalau kamu hanya mengejar duniamu saja. Kalau kamu nggak mondok mending kamu nggak usah kuliah.” Deg. “Mondok? Nggak mau!” Saya kurang sependapat dengan hal itu. Oke, saya memang tak boleh melupakan urusan akhirat saya akan tetapi mondok bukan jalan satu-satunya. Saya masih bisa ngaji “nglaju” atau apalah. Tak harus mondok. Akan tetapi setelah saya pertimbangkan akhirnya saya menyetujuinya. Awalnya memang sungguh berat ketika membayangkan harus berbagi kamar dengan beberapa orang, kehilangan privasi untuk ini itu dan belajar dua kali lipat dibanding teman-teman yang hidup di kos. Saya agak setengah hati memutuskannya. Saya hanya mengharap ridha kedua orang tua saya. InsyaAllah.
Sekarang seiring berjalannya hari-hari saya di Pondok Pesantren Wahid Hasyim, justru pemikiran saya berubah. Ya awalnya saya akui memang berat akan tetapi semuanya membutuhkan proses. Menginjak hampir tiga bulan ini, saya merasa nyaman dan bersyukur dengan keputusan yang saya ambil. Saya tak salah mengambil keputusan. Disini saya mendapatkan teman-teman yang baik dan saling peduli satu sama lain. Walaupun kita dituntut untuk saling “berbagi” akan tetapi saya mulai merasakan indahnya “berbagi” itu. Saya sangat senang bisa menjalankan urusan dunia dan akhirat secara beriringan. THANKS FOR YOUR BRILLIANT IDEA, BUK!
Saya sempat menangis ketika beberapa minggu lalu menelpon orang tua saya. Saat itu ibu bercerita bahwa selama saya tinggal di Jogja, waktu satu bulan itu sangat lama bagi beliau. Biasanya ibu memang tak pernah memikirkan masalah tanggal, hari bahkan bulan. Konsekuensi tinggal di pondok pesantren memang tata tertib yang mengatur santrinya untuk pulang ke rumah hanya sebulan sekali saja. Ibu sangat ingin mengatakan bahwa beliau “kangen” akan tetapi beliau tak mau membuat anaknya kepikiran. Betapa sakitnya saya ketika mendengar hal itu karena di sini saya pun merasakan kerinduan yang sama. MISS YOU, BUK!
Saat ini, memang secara jarak, saya terpisah berpuluh-puluh kilometer dengan orang tua saya. Akan tetapi saya yakin doa mereka selalu menyertai saya dimanapun dan kapanpun. Saya bangga dan bersyukur menjadi anak dari Muh Aslam dan Rohmah. Saya tak pernah menyesali setiap langkah yang saya ambil selama ini karena semuanya dilandasi ridha orang tua saya. Dan memang benar bahwa semua yang disertai ridha mereka, InsyaAllah dimudahkan oleh Allah. Beberapa hari lalu, saya mengikuti kegiatan FISKAL UKMF Al-Fatih dan dari situ saya menemukan pendapat yang sepaham dari Kak Afri (narasumber pada acara tersebut) bahwa setiap pilihan yang kita ambil memang harus disertai ridha orang tua. Jika orang tua tak ridha maka tinggalkan pilihan kita. InsyaAllah ridha orang tua akan mendatangkan ridha Allah. PAK, BUK, TERIMA KASIH! SEMOGA BAPAK IBUK JUGA BANGGA PUNYA ANAK SEPERTI AKU! <3

Senin, 21 April 2014

Cerpen - Karma yang Indah (created by me)



Sebenarnya cerpen ini hasil revisi dari cerpen yang sebelumnya - Kisah Cinta yang Tertunda - hehe
Happy Reading! ^^



Kutaburkan bunga melati yang masih segar diatas gundukan tanah itu. Sesekali kucabuti rumput-rumput liar yang tumbuh subur disekitarnya. Kupandangi sejenak batu nisan yang tepat berada disampingku itu. Aku terdiam. Semua bagai tamparan ribuan peluru yang seketika menghujam. Aku berharap waktu berhenti sekarang juga. Lalu kupejamkan mata, mencoba memutar ulang kenangan yang menyayat hati, dimana sebuah penyesalan terajut rapi bagai kisah ironi.
Semua berawal dari keputusanku untuk melanjutkan kuliah di Bandung. Sebenarnya itu bukan murni keinginanku. Sesungguhnya cita-cita yang kuimpikan sejak dulu adalah melanjutkan studi ke Paris bukan Bandung. Akan tetapi semua kandas ketika tes TOEFLku yang lagi-lagi gagal. Yasudahlah, mungkin ini sudah pilihan Tuhan.
Aku lari tergopoh-gopoh. Aku bangun kesiangan. Hah, ternyata tinggal berpisah dengan orang tua tak semudah yang kukira. Cuci baju sendiri, masak sendiri dan tidur juga sendiri. Sudah seperti bait lagu saja. Padahal hari ini hari pertama ospek. Aku pasti akan jadi sasaran empuk senior pagi ini. Benar saja, sesampainya di kampus, aku langsung kena semprot Kak Arsi, senior yang terkenal paling ganas kala itu. Akan tetapi, sewaktu Kak Arsi tengah asyik memarahiku, tiba-tiba datang senior lain menghampiri kami. Perawakannya tinggi semampai, rambutnya ikal dan wajahnya pun tampan layaknya artis-artis korea di tv. “Ar, kamu dipanggil sama Pak Bambang tuh!” ucap pria itu sambil ngos-ngosan. Kak Arsi langsung bergegas pergi. “Akhirnya kamu bebas juga, Arsi itu kalau nggak distop kayak barusan, dia nggak bakal berhenti, percaya deh!” ujarnya. “Makasih ya, Kak” ucapku malu-malu. Saat itu aku merasa bagaikan putri yang hampir celaka dimakan serigala namun akhirnya berhasil diselamatkan oleh pangeran berkuda putih di cerita dongeng. Kemudian kami pun berkenalan. Ternyata dia bernama Reyhan.
Setelah enam hari lamanya bergelut dengan tugas-tugas ospek, akhirnya sampailah di hari terakhir. Kali ini tugas yang diberikan cukup menggalaukan yaitu membuat surat cinta. Mending kalau hanya disuruh menulis tapi kali ini surat itu juga harus dibacakan didepan umum. Pasti sungguh memalukan. “Aduh, bikin surat buat siapa ya? Masak dia sih?” ucapku lirih. Berhubung waktunya sangat mepet, akhirnya aku memutuskan menulis surat cinta untuknya, Reyhan. Lagi-lagi aku jadi sasaran empuk Kak Arsi. Aku mendapat giliran pertama. Saat itu, Kak Reyhan tepat berdiri disampingnya. Perlahan tapi pasti, aku membacakan surat cintaku dari awal hingga akhir. Sontak, para senior dan teman-teman tertawa dan menyoraki kami berdua. Kak Reyhan yang berdiri dihadapanku justru tak sedikitpun terlihat risih mendengar setiap kata yang kuucapkan tadi. Dia membalas dengan senyuman manis. Jantungku berdegup kencang. Mungkin aku jatuh cinta.
Semenjak incident surat cinta, hubunganku dan Kak Reyhan justru semakin dekat, mungkin karena teman-teman kami yang sering menjodoh-jodohkan kami berdua. Hingga akhirnya tepat di hari ulang tahunku, Kak Reyhan menyatakan perasaannya padaku. Dia memberiku sepucuk surat. Dia bilang itu balasan dari surat cintaku saat ospek lalu. Aku pun  tersipu malu. Akhirnya kami memulai cerita cinta ini.
Empat tahun berlalu, aku sudah lulus dari jenjang S1ku. Aku berniat meraih kembali impian yang tertunda beberapa tahun lalu. Ya, S2 di Paris. Kak Reyhan yang saat itu sudah menjadi manager perusahaan ternama di Bandung, juga memberi dukungan penuh pada keputusanku. Aku belajar mati-matian. Syukurlah, aku berhasil lolos. Aku sangat senang bukan kepayang. Kak Reyhan mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan keberhasilanku. Ya hanya kami berdua. Malam itu terasa sangat mengasyikkan hingga membuat kami lupa diri. Kami “kebablasan”. Entah setan apa yang merasuki kami. Kami melakukan sesuatu yang tak seharusnya kami lakukan. Bahagiaku berubah menjadi tangis. “A.. aku, aku hamil!” tangisku ketika melihat dua garis merah yang nampak jelas muncul pada testpeck  yang kupegang seminggu setelah kejadian itu.
Hampir satu minggu aku mengurung diri di kamar. Aku belum siap menghadapi kenyataan pahit ini. Setiap malam, aku hanya bisa menangis. Aku takut, bahkan untuk memberitahukannya pada Kak Reyhan. Aku sering melihat di tv, banyak laki-laki yang mencampakan pacarnya setelah mengetahui bahwa dia hamil. Aku khawatir Kak Reyhan termasuk salah satunya. Akhirnya kuambil gunting di laci meja belajarku. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku tak menghiraukannya, aku tetap mantap mengarahkan pisau itu ke urat nadiku. Seketika aku tercengang saat mendengar suara tak asing dari balik pintu. “Nan, buka pintunya dong! Kamu kenapa sih? Ditelpon nggak pernah ngangkat, sms juga nggak dibales!” teriak Kak Reyhan sambil terus berusaha menggerak-gerakkan gagang pintu. Satu-persatu air mataku mulai berjatuhan. “Kalau kamu lagi ada masalah, cerita sama aku! Jangan nyiksa diri kayak gini, Nan! Aku ini pacar kamu!” ucapnya halus. Tidak. Aku tidak boleh lari dari masalah. Aku juga tak boleh membunuh janin tak berdosa ini. Aku tak boleh mati. Jika aku bunuh diri, S2 ku juga akan sia-sia. Orangtuaku pasti juga akan sedih ditinggal anak sematawayangnya. Sejenak aku tersadar. Pikiranku kembali waras. Aku langsung melepaskan gunting yang sedari tadi tergenggam erat di tangan. Kak Reyhan akhirnya memutuskan untuk mendobrak pintu yang terkunci itu. Dia sangat terkejut melihat keadaanku yang tampak tak berdaya. Dia langsung memelukku dan bertanya apa masalah yang sebenarnya sedang terjadi. Lalu aku menyodorkan sesuatu. “Ka…kamu hamil?” ucapnya terkejut ketika melihat sebuah testpeck di tangannya. Kemudian dia langsung menggenggam tanganku sangat kuat. “Maafkan aku tapi tak seharusnya kau menanggung beban ini sendirian. Aku akan bertanggung jawab. Aku janji.” ucapnya tegas. Dia kembali mendekap tubuhku, kali ini begitu erat sambil berkata “Kita akan hadapi masalah ini bersama-sama, Nan” Sepanjang malam, ia terus mengucapkan kata-kata itu. Hingga akhirnya aku terlelap didalam dekap hangatnya.
Tak perlu pikir panjang, pagi harinya Kak Reyhan langsung mengajakku ke Semarang untuk menemui kedua orangtuanya. “Nak, habis ini kita mau sowan ke rumah eyang. Kamu pasti udah nggak sabar kan?” ujarnya sambil mengusap-usap perutku. Sebutir air mata pun kembali jatuh. Namun kali ini  adalah air mata bahagia.
Sampailah kami di sebuah rumah sederhana. Kak Reyhan menggandeng tanganku dan mengajakku masuk. Tak kusangka, aku disambut baik oleh keluarga Kak Reyhan. Kami duduk di sebuah kursi tua. Kami asyik berbincang-bincang. Suasana kekeluargaan sangat erat melekat di ruangan itu. Akan tetapi, atmosfer ruangan itu tiba-tiba berubah saat aku mulai menceritakan latarbelakang keluargaku. Entah mengapa, saat mendengar nama kedua orangtuaku, orangtua Kak Reyhan tampak sangat terkejut. Mereka saling memandang dan wajah mereka terlihat sangat pucat. Ucapanku seolah seperti kilatan petir yang menyambar. Gerak-gerik mereka menjadi aneh. Ayah Kak Reyhan langsung menarik tangan istrinya dan mengajaknya kebelakang. Aku dan Kak Reyhan hanya bisa memasang ekspresi orang bingung.
Beberapa menit kemudian, mereka kembali menemui kami. Akhirnya tanpa basa-basi lagi Kak Reyhan mulai menceritakan masalah yang menimpa kami. Jujur tentang kehamilanku dan niatnya untuk segera menikahiku sebelum kami berangkat ke Paris.  Mendengar penjelasan dari anaknya, mereka seolah tersambar petir untuk kedua kalinya. Ayah Kak Reyhan langsung terjatuh ke lantai dan terbujur kaku. Kurasa beliau terkena serangan jantung. Kami langsung buru-buru membawa beliau ke Puskesmas terdekat. Sepanjang perjalanan menuju Puskesmas, lagi-lagi aku kembali menitikkan air mata.
Aku cemas. Aku takut sesuatu yang buruk akan menimpa calon mertuaku. Setelah lama menunggu, akhirnya Ayah Kak Reyhan siuman. Lalu Ayah Kak Reyhan dipindahkan dari ruang UGD ke kamar rawat pasien. Atas permintaan Ayah Kak Reyhan, Suster jaga mempersilakan Kak Reyhan untuk masuk ke kamar beliau. Disisi lain, aku hanya bisa duduk termangu di ruang tunggu. Hampir satu jam, Kak Reyhan berada didalam dan tak kunjung keluar. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Aku sudah tak tahan lagi. Aku pergi menuju ke kamar tempat Ayah Kak Reyhan dirawat. Aku merasa ada sesuatu yang tak beres. Sampai di tengah koridor, aku melihat Kak Reyhan sedang duduk di kursi depan kamar Ayahnya dirawat. Dia menangis. Aku belum pernah melihat dia serapuh itu. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Pertanyaan itu kembali muncul dalam benakku. Lalu aku berjalan ke arahnya.
“Tak mungkin dia adikku! Tak mungkin Kinan adalah adik kandungku sendiri!” ucap Kak Reyhan sambil terus memukulkan kepalanya ke dinding.
“Hah? A…aku…aku adik kandungmu?” ucapku heran.
Kak Reyhan membalikkan badan dan terkejut melihat aku  tepat berdiri di belakangnya. Dia langsung meraih pundakku dan memelukku. Namun aku segera melepaskan pelukan itu.
“Aku adikmu? Apa maksudnya semua ini, Kak?” Tetes air mata jatuh untuk kesekian kalinya.
Aku membisu, hanya air mata yang terus mengalir. Kak Reyhan telah membongkar rahasia itu padaku. Aku menyesal telah bertanya kepadanya. Aku terus berlari entah kemana. Kak Reyhan terus mengejar langkah kakiku. Lagi-lagi kenyataan itu begitu pahit. Kenyataan bahwa kekasih yang sangat kucintai adalah Kakak kandungku sendiri. Dia anak yang dilahirkan Ibuku 27 tahun lalu. Namun akibat persoalan ekonomi yang membelit keluarga kami, akhirnya orangtuaku merelakan anak semata wayangnya untuk diadopsi salah seorang sahabat baiknya. Aku tak sanggup sungguh tak sanggup, aku sadar itu semua akan menjadi penghalang. Aku dan Kak Reyhan tak mungkin melanjutkan cinta sedarah ini.
BRAKKK….” Terdengar suara dibelakangku.  Aku menoleh mengikuti suara itu. Aku sangat terkejut. Kak Reyhan ternyata tertabrak mobil saat hendak mengejarku, dia terpental sangat jauh. Aku langsung berlari menghampirinya. Tak kusangka akan seperti ini, aku mendapatinnya sudah terbujur lemah tak berdaya dengan darah yang terus mengalir dari tubuhnya. Lalu aku menggenggam erat tangannya. Wajahku penuh air mata.
“A…aku, aku sangat mencintaimu, adikku.”
Itulah kata-kata terakhir yang sempat terucap sebelum ia memejamkan matanya untuk selama-lamanya.
Tetesan air hujan jatuh membasahi wajahku. Aku pun terbangun dari lamunan memori masa laluku. “Ma, ayo kita pulang! Hujan turun, nanti Mama sakit.” Suara itu, ya dia adalah Angela, anakku. Buah cintaku dan Kak Reyhan. Sekarang dia sudah berumur sebelas tahun. Dia sangat cantik walaupun salah satu matanya tidak dapat berfungsi alias buta. Mungkin ini yang namanya karma dari hubungan terlarang saudara kandung. “Ayo, Ma! Papa sama adik udah nungguin di mobil.” ucapnya sambil menarik tanganku. Papa? Adik? Ya setelah kepergian Kak Reyhan, aku menemukan pangeran berkuda putihku yang lain di Paris. Dia adalah Arsi, panitia ospek yang galak itu. Sesuai dengan namanya, sekarang dia adalah seorang Arsitek terkenal. Dialah yang selalu menyemangatiku di masa-masa sulitku hingga akhirnya timbul benih-benih diantara kami. Angelo, dia adalah bukti cinta kami dan sekaligus anak keduaku. Sekarang tak ada lagi kesedihan, yang ada hanya kebahagiaan yang terus menyelimuti kami. Aku berharap Kak Reyhan bisa melihat dan ikut senang dengan kehidupanku saat ini. Semoga dia tenang di alam sana.