Minggu, 31 Juli 2016

Mandela: Long Walk to Freedom


 

Nelson Mandela. Ketika masih duduk di bangku sekolah, saya sempat beberapa kali mendengar namanya di televisi. Awalnya yang saya tahu, ia adalah Presiden Afrika Selatan. Ya sosok Presiden yang patut dihormati sama dengan pemimpin negara pada umumnya. Akan tetapi apa yang membuat ia begitu terkenal dan dikagumi. Namanya tak hanya dikenal di negara yang ia pimpin tapi juga menyebar hampir di penjuru dunia. Saat itu juga saya mulai mengetahui bahwa ia menyimpan legenda yang luar biasa, ia merupakan sosok yang pernah memperjuangkan revolusi anti apartheid dan menyerukan persamaan ras di tanah Afrika. Namun sebatas itu saja informasi yang saya tahu. Nelson Mandela, Presiden Afrika Selatan yang dahulu pernah memperjuangkan hak asasi yang seharusnya dimiliki bangsa kulit hitam. Ketika saat ini saya mendapat tugas untuk menonton film bertema diversity dan ethics, saya teringat kembali dengan sosok Nelson Mandela. Saya ingin mencari tahu tentang kisah Presiden Afrika Selatan itu. Ternyata banyak sekali film yang menggambarkan kisah perjuangan Nelson dan akhirnya saya memilih film yang paling baru dirilis. Mandela: Long Walk for Freedom, film garapan Sutradara Justin Chadwick ini menceritakan kisah perjalanan anak muda dari golongan kulit hitam yang mengorbankan hampir setengah dari hidupnya itu memperjuangkan persamaan ras di negaranya. 

Alkisah, ia merupakan remaja yang berprofesi sebagai seorang pengacara. Disinilah ia banyak menyadari bahwa orang-orang berkulit hitam sepertinya banyak mendapat ketidakadilan perlakuan oleh kelompok kulit putih. Tak hanya itu bahkan kaumnya mendapat ketidakadilan di mata hukum. Bersamaan dengan itulah ia bertemu dengan Ahmed Kathrada, Walter Sisulu dan kawan-kawan seperjuangannya. Mereka meyakini bahwa persamaan ras wajib diperjuangkan di negara itu. Sekelompok pemuda kulit hitam ini yakin bahwa satu atau dua orang tak cukup untuk melawan kekejaman para petinggi disana karena persatuan adalah kunci awal dari perjuangan. Dengan ini mereka bersama mantap menyatukan suara dengan para penduduk desa untuk melawan para penguasa daerah. Demo pun mereka galakkan. Disini saya juga baru mengetahui bahwa ternyata saat akan menggunakan kendaraan umum pun mereka mendapat perbedaan perlakuan dari negara. Di dalam kereta ada beberapa kelas VIP yang dikhususkan untuk ras kulit putih sedangkan warga kulit hitam hanya bisa menaiki kelas biasa. Ternyata dalam hal-hal sepele, perbedaan warna kulit selalu diungkit untuk menentukan sebuah keputusan. Sekelompok pemuda ini semakin geram dan lebih giat untuk menyuarakan pendapat mereka ke seluruh penjuru Afrika Selatan. Langkah mereka tentu membuat suasana pemerintahan kala itu semakin panas sehingga pada akhirnya para pelopor anti apartheid itu menjadi buronan negara. Mereka harus rela berpindah-pindah tempat untuk menghindari serangan polisi dengan sambil terus menyuarakan gerakan anti apartheid ke desa-desa yang mereka jumpai. Ya disini saya melihat betapa besar kesungguhan mereka memperjuangkan hak bangsa kulit hitam. Bisa dibilang bahwa keluarga mereka telah dinomorduakan untuk kepentingan mulia ini. Istri pertama Mandela sendiri berkata bahwa suaminya sudah berlebihan, ia lebih menyayangi nasib anak-anak di luar sana daripada anak laki-lakinya sendiri. Akhirnya istri Mandela pun pergi dari rumah karena tak bisa menerima perlakuan dari suaminya itu. Mandela saat itu resmi bercerai dengan istrinya dan menjadi buronan yang paling dicari di Afrika. Mereka sungguh hanya memperjuangkan keadilan dibanding kebutuhan pribadi mereka.

Setelah bertahun-tahun, Mandela yang kala itu sudah memiliki dua anak perempuan hasil dari pernikahan dengan istri keduanya, akhirnya berhasil ditangkap oleh polisi. Ketika di pengadilan, ia sebagai juru bicara dari kelompoknya menyatakan bahwa mereka siap di hukum mati dengan persyaratan bahwa pemerintah harus mengakui persamaan hak antara kaum kulit putih dan kulit hitam. Namun keinginan mereka ditolak oleh Hakim, Mandela dan kawan-kawannya dijatuhi hukuman seumur hidup. Mereka dibawa ke sebuah pulau terpencil untuk menjalani sisa hidup mereka. Namun perlakuan yang mereka dapatkan sungguh tidak manusiawi. Mereka diperlakukan layaknya kawanan binatang. Polisi-polisi itu mempekerjakan mereka seperti budak, mengolok-olok mereka bahkan membiarkan mereka terkena guyuran hujan di tengah malam tanpa sehelai pakaian. Emosi mereka benar-benar diuji. Seberat apapun penderitaan yang mereka hadapi disana, hebatnya mereka tetap saling mendukung satu sama lain.

Hingga sampai saat dimana Mandela mendapat pukulan hebat karena harus ditinggal Ibu kandung dan anak laki-laki dari pernikahan pertamanya yang meninggal dunia. Disaat bersamaan ia juga mendapat kabar bahwa Winnie, istri Mandela akan segera dipenjara. Sepeninggal suaminya yang harus menjalani hukuman seumur hidup didalam jeruji besi, Winnie Mandela berperan sebagai pengganti suaminya untuk meneruskan perjuangan gerakan anti apartheid. Ia pun harus rela meninggalkan kedua anak perempuannya yang saat itu belum genap lima tahun. Itulah saat-saat terburuk yang dialami Nelson Mandela, ia tak diperbolehkan melihat pemakaman Ibu dan anak laki-lakinya sementara disisi lain ia juga harus menyadari bahwa diluar sana kedua anaknya yang lain sedang berjuang mempertahankan hidup tanpa belaian seorang ibu yang harus mengalami hukuman penjara. Terasa pilu ketika harus melihat para pejuang yang hendak menegakkan keadilan justru harus membayar hidupnya dengan penderitaan luar biasa yang saat itu tetap tidak berdampak apapun pada kondisi pemerintahan negaranya. Ya penindasan tetap terjadi terhadap kaum kulit hitam di Afrika Selatan kala itu.

Puluhan tahun akhirnya berlalu, Nelson dan kawan-kawannya sudah berubah menjadi sekelompok pria tua  yang tetap pasrah menjalani kehidupannya di penjara. Scene yang paling mengharukan menurut saya saat itu adalah ketika Nelson bertemu dengan anak perempuannya yang telah tumbuh dewasa. Zindzi Mandela yang sudah mendapat ijin untuk bertemu sang Ayah yang tak pernah hadir menemani masa-masa kecilnya. Dalam satu tahun selama di penjara, Nelson hanya diberikan kesempatan satu kali untuk mengirimkan dua lembar surat kepada putri dan istrinya. Mereka yang telah berpisah selama 16 tahun akhirnya dapat saling bertatap muka. Keinginan kecil untuk saling menyentuh terhalang kaca besi besar yang menghalangi mereka. Dengan kemajuan teknologi yang ada, Zindzi bertekad untuk memberitahu kepada seluruh dunia bahwa ketidakadilan telah terjadi di negaranya. Ia berhasil menarik dukungan dunia untuk ikut serta dalam aksi pembebasan Nelson Mandela. Tuntutan pembebasan Nelson Mandela dan kawan-kawannya terus disuarakan di berbagai dunia. Pemerintah pun semakin tertekan. Mereka akhirnya mengambil tindakan untuk memindahkan para narapidana itu menuju penjara baru yang lebih manusiawi setelah 18 tahun diasingkan di pulau terpencil itu.

Posisi pemerintah semakin tersudutkan ketika dunia terus meminta pengakuan persamaan ras di Afrika Selatan. Akhirnya mereka meminta Nelson untuk menghadiri sebuah perundingan. Nelson tetap teguh pada pendiriannya bahwa kaum kulit hitam harus mendapat perlakuan yang sama seperti halnya yang didapat kaum kulit putih. Salah satunya seperti one man, one vote. Selama ini kaum kulit hitam kurang diakui suaranya dalam pemilihan umum sehingga kursi pemerintahan selalu dikuasai oleh bangsa kulit putih. Sebenarnya populasi orang kulit hitam yang tinggal di Afrika Selatan lebih banyak daripada orang kulit putih. Nelson mengancam kepada para petinggi itu bahwa ketika persamaan hak belum dilakukan, ia memastikan bahwa kaumnya akan terus melakukan pemberontakan. Perundingan sengit terus dilakukan mengingat kondisi Afrika Selatan yang semakin memburuk. Puncaknya sampai dimana keputusan pembebasan Nelson dan kawan-kawannya disetujui oleh Presiden. Peristiwa itu terjadi di tahun 1990 setelah selama 28 tahun mereka ditahan. Bangsa kulit hitam sangat bahagia mendengar kebebasan para pelopor anti apartheid itu.

Sedikit demi sedikit hak asasi kulit hitam mulai diakui. Seiring berjalannya waktu hal buruk terjadi, kaum kulit hitam yang menduduki populasi mayoritas di Afrika Selatan menolak dengan keras kekuasaan yang dipimpin oleh kaum kulit putih. Mereka bahkan menolak untuk berbagi kursi kekuasaan dengan bangsa kulit putih. Kaum kulit hitamlah yang mereka yakini harus menguasai negara asalnya itu. Pemberontakan kembali memuncak. Winnie Mandela yang juga merupakan aktivis juga ikut menolak kehadiran kaum kulit putih di pemerintahan. Hal ini sangat berkebalikan dengan misi suaminya, Nelson Mandela. Nelson menginginkan sebuah perdamaian antara kulit hitam dan putih dengan adanya persamaan hak diantara mereka. Bukan berarti saat setelah kulit hitam diakui maka mereka harus berbalik menindas kaum kulit putih dengan tidak mengijinkan mereka duduk di kursi pemerintahan. Menurutnya tak masalah ketika kaum kulit hitam dan putih harus berbagi kekuasan untuk mewujudkan negara yang lebih baik karena kaum kulit putih juga mempunyai hak andil untuk memperjuangkan negaranya. Perbedaan pendapat antara suami istri ini berujung pada gugatan cerai Nelson kepada Winnie, wanita yang selama puluhan tahun telah mendukung usahanya memperjuangkan hak kaum kulit hitam. Saat itu Nelson diberi kepercayaan untuk mencalonkan diri sebagai calon Presiden Afrika Selatan. Ia meminta warganya untuk dapat menerima persamaan dan menggunakan hak pilih mereka dengan sebaik-baiknya di pemilihan umum nanti.

Kabar baik diterima oleh Nelson, ia berhasil terpilih menjadi Presiden Afrika Selatan. Presiden yang akan memberikan persamaan hak kepada yang hitam atau yang putih. Presiden yang ingin membawa Afrika Selatan dalam kedamaian dan persatuan diatas perbedaan yang ada diantara meraka. Long Walk to Freedom dalam judul film ini benar-benar menyiratkan perjalanan panjang seorang anak dari suku daerah terpencil Afrika yang akhirnya mampu mewujudkan kebebasan kaum kulit hitam dari penindasan dan ketidakadilan yang dialami selama puluhan tahun. Mereka akhirnya dapat hidup saling berdampingan bukan memilih membalas dendam atas penderitaan yang bertahun-tahun dialami.

Nilai moral yang dapat saya petik setelah melihat kisah ini adalah kerelaan Nelson untuk menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam memperjuangkan keadilan. Ia mengesampingkan kepentingan pribadinya demi kepentingan seluruh rakyat di Afrika Selatan. Walaupun kenyataan-kenyataan pahit harus ia alami sepanjang berjuang menegakkan anti apartheid namun ia tak pernah mengurungkan niatnya. Menurut saya, ia merupakan sosok yang mengagumkan. Membayangkan harus berpisah dengan pasangan yang sangat dicintainya, tak mampu melihat pertumbuhan anak-anaknya dan mendapat siksaan yang kejam pasti merupakan hal yang sangat berat untuk diterima. Akan tetapi Nelson begitu juga dengan kawan-kawannya tidak berbalik membenci dan menyayangkan tindakan yang pernah mereka lakukan. Mereka bertekad tak akan pernah berhenti menjalankan misi mulia itu. Hingga pada akhirnya impian mereka tercapai. Buah hasil yang akhirnya Nelson dan kawan-kawannya petik tidak mendustai perjuangan panjang yang telah mereka lakukan. Keadilan telah ditegakkan di tanah Afrika Selatan. Amandla (power)! Awethu!