Kamis, 19 Desember 2013

[FANART] Choi Young Do The Heirs

Halo..... Dreamers! \^o^/
Kalian pasti udah nggak asing lagi kan sama drama satu ini? Iyalah, keren banget soalnya >///< yah walaupun endingnya agak gimana gitu 
Nah dari sekian banyak aktor ganteng yang maen di drama itu, pasti kalian kecantol sama salah satunya kan? Kalo nggak ada, mungkin kalian perlu ngadain konsultasi ke dokter mata (?)

Curcol aja nih ya, sekarang aku lagi autis banget sama yang namanya Choi Young Do aka Kim Woo Bin, Gilllaaaaaaak dia ganteng banget! >////<
Nah disini aku menuangkan keautisanku (?) lewat gambar. Aku bakal nunjukin nih ke kalian hehe
Check it out!


  

Gimana? Bagus nggak? Pacarku ganteng kan? =P
Oh ya itu sebenernya gambarnya utuh (nggak jadi dua) tapi aku crop biar kecacatanku nggak begitu keliatan *eh

Oke Dreamers, aku cuma mau ngepost ini aja (?)
Selamat memulai pagi hari kalian! Fighting!

Kamis, 24 Oktober 2013

Cerpen - Kisah Cinta yang Tertunda (created by me)




Kutaburkan bunga melati yang masih segar diatas gundukan tanah itu. Sesekali kucabuti rumput-rumput liar yang tumbuh subur disekitarnya. Kupandangi sejenak batu nisan yang tepat berada disampingku itu. Aku terdiam. Semua bagai tamparan ribuan peluru yang seketika menghujam. Aku berharap waktu berhenti sekarang juga. Lalu kupejamkan mata, mencoba memutar ulang kenangan yang menyayat hati, dimana sebuah penyesalan terajut rapi bagai kisah ironi.

Semua berawal dari keputusanku untuk melanjutkan kuliah di Bandung. Sebenarnya itu bukan murni pilihanku. Aku terpaksa harus mengikuti kemauan orangtuaku. Keinginanku yang ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri ditolak mentah-mentah oleh mereka. Padahal aku ingin sekali bisa kuliah di Jerman, Perancis atau Jepang tapi yasudahlah. Akhirnya aku mengubur impianku dalam-dalam. Aku yakin pilihan orangtuaku ini adalah yang terbaik.
Aku lari tergopoh-gopoh. Aku bangun kesiangan. Hah, ternyata tinggal berpisah dengan orang tua tak semudah yang kukira. Cuci baju sendiri, masak sendiri dan tidur juga sendiri. Sudah seperti bait lagu saja. Padahal hari ini hari pertama ospek. Aku pasti akan jadi sasaran empuk senior pagi ini. Benar saja, sesampainya di kampus, aku langsung kena semprot Kak Beni, senior yang terkenal paling ganas kala itu. Akan tetapi, sewaktu Kak Beni tengah asyik memarahiku, tiba-tiba datang senior lain menghampiri kami. Perawakannya tinggi semampai, rambutnya ikal dan wajahnya pun tampan layaknya artis-artis korea di tv. “Ben, kamu dipanggil sama Pak Bambang tuh!” ucap pria itu sambil ngos-ngosan. Kak Beni langsung bergegas pergi. “Akhirnya kamu bebas juga, Beni itu kalau nggak distop kayak barusan, dia nggak bakal berhenti, percaya deh!” ujarnya. “Makasih ya, Kak” ucapku malu-malu. Saat itu aku merasa bagaikan putri yang hampir celaka dimakan serigala namun akhirnya berhasil diselamatkan oleh pangeran berkuda putih. Kemudian kami pun berkenalan. Ternyata dia bernama Reyhan.
Setelah enam hari lamanya bergelut dengan tugas-tugas ospek, akhirnya sampailah di hari terakhir. Kali ini tugas yang diberikan cukup menggalaukan yaitu membuat surat cinta. Mending kalau hanya disuruh menulis tapi kali ini surat itu juga harus dibacakan didepan umum. Pasti sungguh memalukan. “Aduh, bikin surat buat siapa ya? Masak dia sih?” ucapku lirih. Berhubung waktunya sangat mepet, akhirnya aku memutuskan menulis surat cinta untuk Kak Reyhan. Lagi-lagi aku jadi sasaran empuk Kak Beni. Aku mendapat giliran pertama. Saat itu, Kak Reyhan tepat berdiri disampingnya. Perlahan tapi pasti, aku membacakan surat cintaku dari awal hingga akhir. Sontak, para senior dan teman-teman tertawa dan menyoraki kami berdua. Kak Reyhan yang berdiri dihadapanku justru tak sedikitpun terlihat risih mendengar setiap kata yang kuucapkan tadi. Dia membalas dengan senyuman manis. Jantungku berdegup kencang. Mungkin aku jatuh cinta.
Semenjak incident surat cinta, hubunganku dan Kak Reyhan justru semakin dekat, mungkin karena teman-teman kami yang sering menjodoh-jodohkan kami berdua. Hingga akhirnya tepat di hari ulang tahunku, Kak Reyhan menyatakan  perasaannya padaku. Dia memberiku sepucuk surat. Dia bilang itu balasan dari surat cintaku saat ospek lalu. Aku pun  tersipu malu. Akhirnya kami memulai cerita cinta ini. Hari demi hari kami lalui layaknya remaja yang sedang dimabuk cinta. Sampai suatu saat, kami “kebablasan”. Kami khilaf. Kami melakukan sesuatu yang tak seharusnya kami lakukan. “A.. aku, aku hamil!” tangisku ketika melihat dua garis merah yang nampak jelas muncul pada testpeck  yang kupegang.
Hampir satu minggu aku mengurung diri di kamar. Aku belum siap menghadapi kenyataan pahit ini. Setiap malam, aku hanya bisa menangis. Aku takut, bahkan untuk memberitahukannya pada Kak Reyhan. Aku sering melihat di tv, banyak laki-laki yang mencampakan pacarnya setelah mengetahui bahwa dia hamil. Aku khawatir Kak Reyhan termasuk salah satunya.
Pada suatu malam, aku sudah bersiap dengan sebilah pisau di tangan. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku tak menghiraukannya, aku tetap mantap mengarahkan pisau itu ke urat nadiku. Seketika aku tercengang saat mendengar suara tak asing dari balik pintu. “Nan, buka pintunya dong! Kamu kenapa sih? Ditelpon nggak pernah ngangkat, nggak masuk kuliah, sms juga nggak dibales!” teriak Kak Reyhan sambil terus berusaha menggerak-gerakkan gagang pintu. Air mataku mulai berjatuhan. “Kalau kamu lagi ada masalah, cerita sama aku! Jangan nyiksa diri kayak gini, Nan! Aku ini pacar kamu!” ucapnya halus. Tidak. Aku tidak boleh lari dari kenyataan. Aku juga tak boleh membunuh janin yang tak berdosa ini. Kemudian aku langsung melepaskan pisau yang sedari tadi tergenggam erat di tangan. Kak Reyhan akhirnya memutuskan untuk mendobrak pintu yang terkunci itu. Dia sangat terkejut melihat keadaanku yang tampak tak berdaya. Dia langsung memelukku dan bertanya apa masalah yang sebenarnya sedang terjadi. Aku harus jujur padanya. Lalu aku menyodorkan sesuatu. “Ka…kamu hamil?” ucapnya terkejut ketika melihat sebuah testpeck di tangannya. Kemudian dia langsung menggenggam tanganku sangat kuat. “Maafkan aku tapi tak seharusnya kau menanggung beban ini sendirian. Aku akan bertanggung jawab. Aku janji.” ucapnya tegas. Dia kembali mendekap tubuhku, kali ini begitu erat sambil berkata “Kita akan hadapi masalah ini bersama-sama, Nan” Sepanjang malam, ia terus mengucapkan kata-kata itu. Hingga akhirnya aku terlelap didalam dekap hangatnya.
Tak perlu pikir panjang, pagi harinya Kak Reyhan langsung mengajakku ke Semarang untuk menemui kedua orangtuanya. “Nak, habis ini kita mau sowan ke rumah eyang. Kamu pasti udah nggak sabar kan?” ujarnya sambil mengelus-elus perutku. Sebutir air mata pun kembali jatuh. Namun kali ini  adalah air mata bahagia.
Sampailah kami di sebuah rumah sederhana. Kak Reyhan menggandeng tanganku dan mengajakku masuk. Tak kusangka, aku disambut baik oleh keluarga Kak Reyhan. Kami duduk di sebuah kursi tua. Kami asyik berbincang-bincang. Suasana kekeluargaan sangat erat melekat di ruangan itu.
“Oh jadi kamu ini orang Jakarta, Nak?” tanya Ibu Kak Reyhan.
“Iya, Bu. Saya tinggal di  daerah Pondok Indah.” jawabku sambil menganggukkan kepala.
“Wah pasti orangtuamu ini orang kaya ya?”
“Huss, buk, apa-apaan kamu ini!” sela Ayah Kak Reyhan.
“Ah nggak kok, Bu. Ayah saya cuma pekerja di perusahaan tekstil biasa.” jawabku. “Perusahaan tekstil? Wah dulu Bapak juga bekerja di bidang itu tapi akhirnya bangkrut karena ditipu orang. Lalu kami pindah ke Semarang.”
“Kalau boleh tahu, siapa nama Ayahmu, Nak? Mungkin saja Bapak kenal.”
“Oh, Ayah saya… Pramono Sugiarto, Pak.” jawabku mantap.
Entah mengapa, saat mendengar nama itu, orangtua Kak Reyhan tampak sangat terkejut. Mereka saling memandang.
“Ka…kalau Ibumu, Nak?” Ayah Kak Reyhan setengah tergagap.
“Ibu saya…Endah Tri Gunawan, Pak.”
 Ucapanku seolah seperti kilatan petir yang menyambar. Raut wajah orangtua Kak Reyhan seketika berubah. Mereka tampak aneh. Ayah Kak Reyhan langsung menarik tangan istrinya dan mengajaknya kebelakang. Aku dan Kak Reyhan hanya bisa memasang ekspresi orang bingung.
Beberapa menit kemudian, mereka kembali menemui kami. Akhirnya tanpa basa-basi lagi Kak Reyhan mulai menceritakan masalah yang sedang kami hadapi. Mendengar penjelasan dari anaknya, mereka seolah seperti tersambar petir untuk kedua kalinya. Ayah Kak Reyhan langsung terjatuh ke lantai dan terbujur kaku. Beliau terkena serangan jantung. Kami langsung buru-buru membawa beliau ke Puskesmas terdekat. Sepanjang perjalanan menuju Puskesmas, lagi-lagi aku kembali menitikkan air mata. Melihat kondisi Ayah Kak Reyhan, aku tak sanggup membayangkan reaksi apa yang akan muncul dari orangtuaku sendiri saat mengetahui masalah yang sedang menimpa anaknya.
Aku cemas. Aku takut sesuatu yang buruk akan menimpa calon mertuaku. Setelah lama menunggu, akhirnya Ayah Kak Reyhan siuman. Atas permintaan Ayah Kak Reyhan, Suster jaga mempersilakan Kak Reyhan untuk masuk ke kamar beliau. Aku hanya bisa duduk termangu di ruang tunggu. Hampir satu jam, Kak Reyhan berada didalam dan tak kunjung keluar. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Aku sudah tak tahan lagi. Aku pergi menuju ke kamar tempat Ayah Kak Reyhan dirawat. Aku merasa ada sesuatu yang tak beres. Sampai di tengah koridor, aku melihat Kak Reyhan duduk di kursi depan kamar Ayahnya dirawat. Dia menangis. Aku belum pernah melihat dia serapuh itu. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Pertanyaan itu kembali muncul dalam benakku. Lalu aku datang menghampirinya.
“Tak mungkin dia adikku! Tak mungkin Kinan adalah adik kandungku sendiri!” ucap Kak Reyhan sambil terus memukulkan kepalanya ke dinding.
“Hah? A…aku…aku adik kandungmu?” ucapku heran.
Kak Reyhan membalikkan badan dan terkejut melihat aku  tepat berdiri di belakangnya. Dia langsung meraih tubuhku dan memelukku. Namun aku segera melepaskan pelukan itu.
“Aku adikmu? Apa maksudnya semua ini, Kak?” Setetes air mata jatuh untuk kesekian kalinya.
Aku membisu, hanya air mata yang terus mengalir. Kak Reyhan telah membongkar rahasia itu padaku. Aku menyesal telah bertanya kepadanya. Aku terus berlari entah kemana. Kak Reyhan terus mengejar langkah kakiku. Lagi-lagi kenyataan itu begitu pahit. Kenyataan bahwa kekasih yang sangat kucintai adalah Kakak kandungku sendiri. Dia anak yang dilahirkan Ibuku 21 tahun lalu. Namun akibat persoalan ekonomi yang membelit keluarga kami akhirnya orangtuaku merelakan anak semata wayangnya untuk diadopsi salah seorang sahabat baiknya. Aku tak sanggup sungguh tak sanggup, aku sadar itu semua akan menjadi penghalang. Aku dan Kak Reyhan takkan pernah bisa bersatu.
BRAKKK….” Terdengar suara dibelakangku.  Aku menoleh mengikuti suara itu. Aku sangat terkejut. Kak Reyhan ternyata tertabrak mobil saat hendak mengejarku, dia terpental sangat jauh. Aku langsung berlari kearahnya. Aku mendapatinnya sudah terbujur lemah tak berdaya dengan darah yang terus mengalir dari tubuhnya. Aku menggenggam erat tangannya. Wajahku penuh air mata.
“A…aku, aku sangat mencintaimu, adikku.”
Itulah kata-kata terakhir yang sempat terucap sebelum ia memejamkan matanya untuk selama-lamanya.
Tetesan air hujan jatuh membasahi wajahku. Aku pun terbangun dari lamunan memori masa laluku. “Ma, ayo kita pulang! Kakek dan nenek sudah menunggu di mobil.” Suara itu, dia adalah Ruben, anakku. Buah cintaku dan Kak Reyhan. Sekarang dia sudah berumur tujuh tahun. Dia sangat tampan sama seperti pangeran berkuda putihku. Perlahan, aku dan Ruben melangkah pergi. Aku menggenggam erat tangannya, membayangkan sosok Kak Reyhan juga berada diantara kami. “Walaupun kau telah pergi meninggalkanku, kisah cinta ini belum berakhir. Ini hanyalah kisah cinta yang tertunda.”

Rabu, 03 Juli 2013

Darsono Sang Tokoh PKI



Sedikit cerita, waktu dapet tugas buat menceritakan salah seorang tokoh PKI yang bernama Darsono ini, saya kesulitan banget (-_-v) soalnya saya kekurangan referensi. Teman-teman yang lain bisa dapet berlembar-lembar soalnya mereka dapet tokoh yang terkenal (eh!) dan saya cuma menthok di satu lembar (-_-). Tapi tenang aja, tugas yang saya tulis ini merupakan gabungan dari berbagai sumber (walaupun sumbernya terbatas), yang kemudian saya ringkas kembali (:3)

Catatan sejarah atas diri Darsono sangat jauh dari cukup. Dia diperkirakan lahir tahun 1897 sedangkan tempat lahirnya belum diketahui dengan jelas. Ayah Darsono merupakan seorang Pegawai Negeri, terbukti karena Darsono mampu mengenyam bangku sekolah. Darsono dikenal akrab dengan kehidupan petani karena pergaulannya dengan anak-anak petani sewaktu kecil. Kedekatannya dengan dunia pertanian, membuat ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Sekolah Pendidikan Pertanian.
Setamat dari Sekolah Pendidikan Pertanian, Darsono bekerja di Perkebunan Tebu. Sebuah tempat dimana ia melihat kemiskinan dan sistem sosial yang buruk. Selama bekerja, Darsono meluangkan waktunya dengan membaca buku-buku yang diperolehnya. Masa itu, kehidupan kuli-kuli perkebunan yang buruk sudah menjadi hal yang biasa. Sampai akhirnya hadir dalam persidangan Sneevliet, ia bertemu Semaoen yang kemudian menempatkannya dalam redaksi Sinar Djawa mulai 27 Februari 1918 pada bagian telegram.
Menurut Darsono, rakyat Jawa masih bodoh. Untuk menyadarkannya diperlukan artikel-artikel yang berani. Tulisan yang terlalu ilmiah tidak akan dimengerti oleh rakyat yang umumnya tidak pernah sekolah. Orang yang berani lebih diperlukan dari pada orang yang terdidik dan pandai. Cara yang tepat menurut Darsono adalah hantam kromo bukancara intelektual. Namun keterlibatan Darsono yang cenderung kiri di Sinar Djawa ternyata malah membuat beberapa orang pergerakan yang kurang radikal gerah. SI cabang Semarang semakin lama semakin radikal dan cenderung menyerang golongan moderatnya yang kebanyakan menduduki posisi kunci dalam SI, termasuk Darsono sendiri.
Salah satu artikel yang ditulis oleh Darsono adalah Giftige Waarheidspijlein (Pengadilan Panah Beracun) yang salah satu kalimatnya berbunyi “Selama toemboeh-toemboehan bisa hidoep, SETAN OEANG, jang dengan rapi dilindoengi oleh pemerintah, soedah membikin sengsaranja ra’jat.” “Setan Oeang” istilah politik pada zaman pergerakan yang ditujukan kepada para Pemilik modal atau Pengusaha.
Perkembangan paham sosialisme revolusioner, membuat Sarekat Islam pecah menjadi "SI Putih" yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto dan "SI Merah" yang dipimpin Semaoen. Tentunya Darsono tergabung dalam golongan "SI Merah" yang berasaskan sosialisme-komunisme. Golongan inilah yang menjadi cikal-bakal terbentuknya PKI yang yang meneriakkan kepentingan buruh-tani di Hindia. Dan akhirnya pada tanggal 20 Mei 1920, Perserikatan Komunis di Hindia itu pun lahir.
Selama menjadi anggota PKI , Darsono pernah dicalonkan sebagai anggota Tweede Kamer (Majelis Rendah) tahun 1929 oleh Partai Komunis Belanda. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh kunjungan dan pidatonya pada kongres CP November 1921 sebelumnya. Karenanya Darsono juga cukup populer di Belanda. Apalagi Darsono juga cukup teoritis dalam pergerakan. Walau begitu Darsono kemudian justru keluar dari PKI kendati ia masih memihak kaum yang tertindas. Banyak juga tokoh PKI angkatan 1920an yang menghilang dari peredaran perpolitikan pasca kemerdekaan Indonesia.
Darsono mendedikasikan hidupnya untuk membela kaum yang tertindas dengan melawan Setan Oeang. Darsono masih percaya kekuatan pena mampu mengalahkan pedang. Tulisannya Giftige Waarheidspijlein adalah sebuah pengadilan terhadap pemerintah kolonial yang tidak peduli dengan nasib kaum kromo pribumi. Baginya bahasa ilmiah sulit dipahami oleh rakyat tertindas. Ciri khas Darsono dalam tulisannya adalah bahasanya yang berani. Dan inilah yang membuat dirinya dijuluki “Si Panah Beracun.”

See you, Dreamers! Semoga bermanfaat!

Sengketa Antar Negara



Karena saya tetap belum menemukan sesuatu yang ingin saya tulis. Jadi saya bagi-bagi tugas sekolah lagi (=P). Lagi-lagi ini tugas PKN (hehehe), isinya tentang beberapa sengketa yang pernah terjadi antar negara di dunia. Karena isinya berlembar-lembar maka biar lebih praktis, saya masukin ke google drive (hehehe).
Langsung aja, Check it out!

https://docs.google.com/file/d/0B7SzljBO_00lTDRwczUwdlhKSGc/edit?usp=sharing

Semoga bermanfaat! ^o^

Contoh Proposal HUT Kemerdekaan


Indonesiaaaa~ tanah airku, tanah tumpah darahku~
Disanalaaaah~ aku berdiri, jadi pandu ibuku~ (?)


Maaf gaje, saya lagi nggak tau nih mau nulis apaan, jadinya begini (-_-). Oke, berhubung saya lagi nggak ada topik buat dibahas maka lebih baik saya berbagi sesuatu aja. Iyalah apalagi kalo bukan tugas-tugas saya (hehehe).
Teman-teman yang menjabat jadi Sekretaris di organisasinya tentu nggak asing dong sama "Proposal." Nah kali ini saya nge-upload contoh "Proposal HUT Kemerdekaan" nih, siapa tau ada yang lagi butuh referensi (^_^)
Check it out!

Semoga bermanfaat dan bisa jadi referensi yang bermutu buat kalian! Selamat Malam! Sampai Jumpa, Dreamers! \^o^/

Sabtu, 29 Juni 2013

Kepala Daerah Seharusnya Putra Daerah



Sebenernya ini salah satu tugas PKN saya. Jadi gini, kita (lo aja kali) disuruh bikin karangan, isinya pendapat kita mengenai "Kepala Daerah Seharusnya Putra Daerah." Jikalau ada yang dapet tugas yang nggak jauh beda, semoga tugas saya ini bisa jadi referensi yang bermutu ya (hehehe)
Let's check it out!


Makna dari kalimat “Kepala Daerah Seharusnya Putra Daerah” yaitu pemimpin yang menjabat dalam suatu daerah seharusnya merupakan penduduk asli daerah tersebut. Perlu digarisbawahi, yang dimaksud dengan penduduk asli adalah seseorang yang lahir dan kemudian bertempat tinggal dalam suatu daerah tersebut. Dalam dunia politik saat ini, tentu kita banyak menemukan adanya Kepala daerah yang sebenarnya bukanlah penduduk asli dari daerah yang dipimpinnya. Peristiwa ini menjadi fenomena yang perlu untuk diperbincangkan.
Jika menelisik dari sisi positif ataupun negatifnya, menurut saya fenomena adanya Kepala daerah yang bukan berasal dari daerah tersebut sebaiknya tak semakin mewabah ke daerah lainnya. Memang ada pepatah yang pernah berkata “Janganlah menilai manusia dari latarbelakangnya” namun pada kenyataannya yang terjadi, proses politik yang semacam itu kebanyakan akan memojokkan rakyat. Rakyat yang seharusnya mendapat jaminan kesejahteraan bahkan tak terwujud sama sekali.
Dalam memaparkan suatu pendapat tentu perlu disertai dengan alasan-alasan atau bukti untuk mendukung pendapat tersebut agar dapat diterima oleh orang banyak. Terdapat tiga alasan yang saya miliki saat mencoba menyelidiki kasus ini. Alasan pertama mengapa saya menyetujui judul diatas yaitu karena jika seorang Kepala daerah bukan berasal dari daerah yang dipimpinnya, tentunya Kepala daerah itu kurang begitu memahami secara spesifik keadaan atau sifat masyarakatnya. Maka disaat akan menetapkan suatu peraturan, pemimpin tersebut tidak dapat menentukan peraturan yang cocok berdasarkan budaya rakyatnya dan seringkali akan terjadi miss communication yang akhirnya menimbulkan munculnya banyak demonstrasi karena tidak ada keserasian dalam hubungan pemimpin dan rakyat. Alasan kedua yang mendorong saya menjadi pihak yang menyetujui apabila seorang kepala daerah harus merupakan putra daerah dari daerah itu yaitu karena menurut saya, pengetahuan seseorang yang tidak lahir dalam suatu wilayah yang akan dipimpinnya mengenai kondisi lingkungan yang ada akan sangat minim. Jika hal ini dibiarkan, maka bisa saja dalam prakteknya, pemimpin tersebut akan kebingungan mengatasi masalah-masalah yang terjadi di lingkungannya karena tidak mengetahui secara pasti bagaimana cara menanggulanginya. Dan akhirnya, rakyat akan menjadi korban untuk kedua kalinya. Alasan ketiga yang mungkin dapat memperkuat pendapat saya adalah apabila suatu daerah dipimpin bukan oleh seseorang yang berasal dari daerah itu maka tidak akan timbul rasa cinta yang kuat dengan daerah yang dipimpinnya. Orang tersebut hanya akan menganggap tanggungjawabnya itu hanyalah pekerjaan semata. Sesuatu pekerjaan yang dituntut untuk menyelesaikannya, setelah itu gaji akan didapatnya sebagai upah hasil usahanya. Namun sesungguhnya, tugas menjadi seorang Kepala daerah adalah kepercayaan yang diberikan rakyat kepadanya. Kepercayaan itu harus dapat dijaga. Kepercayaan itu selanjutnya mencerminkan sebuah kewajiban. Kewajiban tersebut kemudian harus dilaksanakan. Karena rakyat sudah memberi kepercayaan kepadanya, maka dia harus memberikan balasan kepada mereka yaitu dengan wujud sebuah kesejahteraan dan keadilan. Jika tak ada rasa cinta yang telah tertatanam disaat melakukan hal tersebut tentunya akan menjadi sesuatu sulit. Rasa cinta kepada suatu daerah timbul ketika seseorang banyak menghabiskan hidupnya disana dan banyak mengalami kenangan-kenangan di tempat tersebut. Untuk menimbulkan rasa cinta yang kita rasakan, tentunya akan melalui sebuah proses. Jika orang tersebut lahir di daerah yang akan dipimpinnya maka kemungkinan besar sudah tertanam cinta yang hakiki yang dia rasakan pada daerah itu karena dia memiliki keinginan untuk membuat daerah tempat lahirnya selalu ada sebagai kenangan saat-saat masa kecilnya. Maka dengan rasa cinta yang ada pada daerah itu, seorang pemimpin akan berjuang dengan ikhlas dan pantang menyerah demi memajukan daerahnya. Pemimpin akan mengerahkan segala kekuatannya untuk melindungi daerah yang dia cintai.
Pada hakekatnya, manusia memang lahir dengan sifat yang bermacam. Akan menjadi sebuah ketidakadilan jika kita menyamakan sifat seseorang dengan sebuah teori yang ada dalam pikiran kita. Saya memang tidak setuju jikalau suatu daerah dipimpin bukanlah oleh penduduk asli daerah tersebut akan tetapi, seperti yang sudah saya sebutkan diatas, kita tidak boleh menilai seseorang hanya dengan sebuah pendapat dalam pikiran kita. Jadi apabila seorang pemimpin dapat memimpin suatu daerah dengan baik dan dapat menyejahterakan rakyat yang ada didalamnya walaupun dia bukan penduduk asli dari daerah itu, saya akan tetap mendukungnya. Dalam hal ini yang menjadi prioritas utama adalah kepentingan rakyat. Kesimpulannya, tidak masalah orang luar memimpin daerah kita selama orang tersebut dapat menjadi orang yang amanah dalam menanggung kepercayaan dari rakyatnya dan membuat seluruhnya rakyatnya makmur dan sejahtera.


Semoga bermanfaat, Fighting, Selamat bertemu dipostingan berikutnya, Dreamers! \^o^/