Jumat, 12 Desember 2014

Eh? Scholarship? Keluar Negeri?






Sesuatu yang spesial dari tutorial PAI? Yang bisa menginspirasi aku? Hmm apa ya? Memangnya ada? Hehe. Awalnya memang aku pikir “mungkin” hampir tak ada. Ya semuanya berlangsung begitu saja, biasa. Kegiatan yang bagus but nothing special for me.
Suatu hari, pada pertemuan tutorial yang kesekian, entah terasa berbeda. Saat itu bertempat di taman KHD. Mungkin berbeda karena tak biasanya kami berkunjung ke fakultas sebelah ya? Hehe. Sayangnya tak banyak yang bisa hadir dalam tutorial siang itu karena berbagai urusan yang harus mereka selesaikan. Akhirnya hanya kami berlima dan ditemani mbak Risca tentunya, walaupun waktunya agak “ngaret” dari yang kami rencanakan. Berhubung hanya sedikit yang datang, tutorial PAI berubah menjadi ajang sharing dadakan. Mulai dari membahas pengalaman UTS pertama, kedekatan dengan orangtua hingga pengalaman mbak Risca saat berkunjung ke Malang untuk mewakili universitas beberapa waktu lalu. Ya tentunya juga ditemani oleh-oleh bawaan mbak Risca yang enak itu hehe.
Sampai akhirnya topik pembicaraan kami beralih ketika mbak Risca beranjak menanyakan sesuatu. “Dek, kalian punya keinginan kuliah keluar negeri?”, tanyanya. Deg. “Siapa yang tak mau, hampir semua orang pasti mengiginkannya.” batinku. Kami secara spontan serentak mengiyakan pertanyaan itu. “Huh tapi itu mungkin impian yang terlalu tinggi.” batinku lagi sambil menghembuskan  napas. Wajah yang berbinar berubah menjadi pucat. Sepertinya semua yang berada disitu memiliki pikiran yang sama denganku, kecuali “mbak tutor” kami. “Eh jangan salah,... nggak ada yang nggak mungkin kok” Kami menatap dan mendengarkan dengan saksama sumber suara itu, yang tak lain adalah “mbak tutor” kami sendiri. Mbak Risca mulai bercerita lagi, sekarang tentang alasan kenapa dia terlambat datang beberapa menit lalu. “Bertemu mahasiswi asal China, wow!” Tentu semuanya terkaget ketika mendengar hal itu. Ya kami sudah mengetahui sebelumnya bahwa “mbak tutor” kami ini memang ingin sekali pergi kesana. China. Semua pasti ada hubungannya. Terlepas dari cerita pengalaman seru bertemu mahasiswi asal China itu, pelajaran pertama yang dapat diambil yaitu “Melakukan sesuatu walaupun hal kecil sekalipun untuk menjadikan mimpi bukan sekadar impian akan tetapi benar-benar bisa menjadi kenyataan.”. Setelah mendengar cerita mbak Risca, aku belajar bahwa “mbak tutor” kami ini tak hanya diam menunggu dan membayangkan kapan hari itu dapat terjadi namun ia sudah mulai bergerak untuk mewujudkannya karena mungkin ia tahu impian tak datang sendirinya tapi ia sendirilah yang harus berusaha menggapainya.Wah!
Berbeda dengan mbak Risca, China bukanlah tujuanku. Akan tetapi mungkin kami punya pendapat yang sama tentang Scholarship. Tak perlu satu atau dua tahun, seminggu atau dua minggu itu sudah cukup yaitu dengan Scholarship. Percakapan kami pun terus berlanjut membicarakan tentang kemungkinan persyaratan yang akan diajukan untuk mendapat Scholarship, cara mendapatkan suntikan dana untuk Scholarship itu dan langkah-langkah kecil yang harus kita lakukan sebelum melakukannya. “Eh TOEFL lebih dari 550? IPK dengan angka sekian? Ini itu...? Bisa nggak ya?” Lagi-lagi “mbak tutor”  yang sudah membimbing kami hampir dua bulan ini meyakinkan bahwa “kami pasti bisa”. “Kunci utamanya adalah optimis”, ungkapnya. Kami pun menelan ludah dalam-dalam. Seperti kalimat yang pernah terlontar dari animator ternama yaitu Walt Disney, “Semua mimpimu akan terwujud asalkan kamu punya keberanian untuk mengejarnya.” Ya itu benar.
Dari pertemuan tutorial PAI waktu itu, mungkin aku sedikit tersadar. Sadar bahwa aku harus membuang semua ketakutan dan rasa pesimis itu. Meyakini bahwa alasan kegagalanku beberapa waktu lalu mungkin karena ketakutan dan rasa pesimis yang berlebihan sehingga sekarang tak ada alasan untuk mengulanginya lagi. Salah seorang menteri AS pun pernah berkata, “Sebuah mimpi dapat terwujud bukan karena keajaiban, melainkan karena keringat dan kerja keras.” Ya sekaranglah waktunya. Belum terlambat untuk membangun mimpi itu menjadi hal yang tak mustahil bagiku. Aku tak ragu lagi menulisnya dalam daftar mimpi makroku. Scholarship? I know I can!