Rabu, 25 Februari 2015
Minggu, 04 Januari 2015
Apa yang Salah dengan Jomblo?
Oleh: Nur Mazhariya U, Yovita Indriya/ Vindiasari Yunizha
Seiring
berjalannya waktu, memiliki pasangan menjadi sebuah tren tersendiri di kalangan
mahasiswa. Mereka yang jomblo dijadikan bahan sindiran. Lantas, apa yang salah
dengan jomblo?
Istilah jomblo mulai akrab di telinga kita sejak awal tahun 2000-an.
Istilah ini merujuk pada seseorang yang tidak memiliki pasangan atau tengah
berusaha memperolehnya. Beragam stigma negatif muncul terkait fenomena jomblo.
Akhirnya ‘dia’ yang jomblo sering merasa tersudutkan dan merasa tidak laku.
Stigma negatif
Kisah percintaan menjadi warna
tersendiri di kehidupan kawula muda. Umumnya pada masa tersebut, mereka tengah mengalami
proses pendewasaan, baik dalam fisik, pikiran, maupun perasaan. Pada usia tersebut, anak muda atau mengambil contoh
dekat yaitu mahasiswa mulai memiliki kebebasan untuk menentukan jalinan asmaranya. Apakah mereka akan mulai memiliki seorang kekasih atau tidak?
Keputusan yang diambil
mahasiswa mengenai status hubungannya, mulai menjadi perbincangan. Memiliki
kekasih bukan menjadi pilihan, melainkan suatu ‘kewajiban’ di kalangan mahasiswa. Dewasa ini, menyandang status jomblo menjadi dilema
tersendiri bagi mahasiswa. Hal ini dikarenakan jomblo
sering kali dikonotasikan sebagai suatu hal
yang negatif, seperti galau, tidak keren, kesepian bahkan tidak hebat. “Sebenarnya sih nggak masalah jomblo atau tidak, cuma mungkin kalau dari sisi negatifnya,
kadang ada rasa gengsi kalo kumpul ama temen-temen,” ujar Matheus Ludfi (Teknik Fisika’13). Namun demikian
menutut Matheus menjadi masalah selama tidak mengurangi semangat.
Pengaruh media
Menurut Prof Dr Tina
Afiatin Msi Psi, selaku Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, pandangan negatif tadi disebabkan dua faktor, yaitu internal dan eksternal. Faktor
internal berasal dari diri sendiri sementara faktor eksternal berasal dari lingkungan. Faktor
internal merupakan pandangan seseorang menilai dirinya sendiri. “Bagi yang menyadang status jomblo,
mereka akan merasa minder pada dirinya sendiri. Biasanya mereka akan merasa
tidak rupawan, tidak cantik, atau tidak populer,” jelas Tina. Jika persoalan
ini berkepanjangan maka hal itu dapat menghambat pergaulan mereka.
Sedangkan faktor eksternal merupakan cara pandang orang lain maupun media terhadap para jomblo. Saat ini, media gencar menginformasikan pemberitaan yang
mempengaruhi cara pikir masyarakat. “Tak sedikit media menyajikan berita maupun
hiburan yang memberikan citra buruk pada para jomblo. Misalnya, sinetron yang
mengusung tema percintaan. Dalam sinetron tersebut diceritakan bahwa mereka
yang memiliki kekasih adalah orang yang populer dan rupawan sementara yang
tidak mendapatkan kekasih adalah orang yang payah,” ujar Tina. Hal-hal tersebutlah yang membuat predikat ‘jomblo’ banyak dikonototasikan dengan hal-hal
yang negatif.
“Propaganda dari TV,
iklan,
media sosial mengubah cara berpikir masyarakat menjadi cara berpikir
hedonis yang hanya mencari kesenangan. Hal itu, merupakan salah satu faktor
yang mengubah pemikiran secara tidak langsung,” tambahnya.
Terdapat beberapa cara
yang bisa digunakan untuk mengatasi dampak psikis akibat fenomena jomblo ini.
Diantaranya melalui dukungan keluarga dan menyibukkan diri dengan hal-hal
positif. Namun, jika dampak yang dirasa makin parah, Tina menyarankan untuk konseling.
Predikat seorang jomblo tak selamanya negatif, presepsi kembali ke pribadi
masing-masing. Sebagai kawula muda, wajar bila kita mendambakan seorang
pasangan. Mahasiswa memiliki kewajiban yang lebih besar, yaitu kewajiban pada
pendidikan saat ini. “Ya menurutku sih penting-nggak penting
status jomblo itu. Kadang jomblo bisa merasa kesepian, tapi kadang juga jadi buat kita lebih fokus belajar,” pungkas Efrem Deardo (Teknik Fisika’13).
nb: ilustrasi oleh Nelly Ifada wks ^^
nb: ilustrasi oleh Nelly Ifada wks ^^
Jumat, 12 Desember 2014
Eh? Scholarship? Keluar Negeri?
Sesuatu
yang spesial dari tutorial PAI? Yang bisa menginspirasi aku? Hmm apa ya?
Memangnya ada? Hehe. Awalnya memang aku pikir “mungkin” hampir tak ada. Ya
semuanya berlangsung begitu saja, biasa. Kegiatan yang bagus but nothing
special for me.
Suatu
hari, pada pertemuan tutorial yang kesekian, entah terasa berbeda. Saat itu
bertempat di taman KHD. Mungkin berbeda karena tak biasanya kami berkunjung ke
fakultas sebelah ya? Hehe. Sayangnya tak banyak yang bisa hadir dalam tutorial
siang itu karena berbagai urusan yang harus mereka selesaikan. Akhirnya hanya kami
berlima dan ditemani mbak Risca tentunya, walaupun waktunya agak “ngaret” dari
yang kami rencanakan. Berhubung hanya sedikit yang datang, tutorial PAI berubah
menjadi ajang sharing dadakan. Mulai
dari membahas pengalaman UTS pertama, kedekatan dengan orangtua hingga
pengalaman mbak Risca saat berkunjung ke Malang untuk mewakili universitas
beberapa waktu lalu. Ya tentunya juga ditemani oleh-oleh bawaan mbak Risca yang
enak itu hehe.
Sampai
akhirnya topik pembicaraan kami beralih ketika mbak Risca beranjak menanyakan
sesuatu. “Dek, kalian punya keinginan kuliah keluar negeri?”, tanyanya. Deg.
“Siapa yang tak mau, hampir semua orang pasti mengiginkannya.” batinku. Kami secara
spontan serentak mengiyakan pertanyaan itu. “Huh tapi itu mungkin impian yang
terlalu tinggi.” batinku lagi sambil menghembuskan napas. Wajah yang berbinar berubah menjadi
pucat. Sepertinya semua yang berada disitu memiliki pikiran yang sama denganku,
kecuali “mbak tutor” kami. “Eh jangan salah,... nggak ada yang nggak mungkin
kok” Kami menatap dan mendengarkan dengan saksama sumber suara itu, yang tak
lain adalah “mbak tutor” kami sendiri. Mbak Risca mulai bercerita lagi,
sekarang tentang alasan kenapa dia terlambat datang beberapa menit lalu.
“Bertemu mahasiswi asal China, wow!” Tentu semuanya terkaget ketika mendengar
hal itu. Ya kami sudah mengetahui sebelumnya bahwa “mbak tutor” kami ini memang
ingin sekali pergi kesana. China. Semua pasti ada hubungannya. Terlepas dari
cerita pengalaman seru bertemu mahasiswi asal China itu, pelajaran pertama yang
dapat diambil yaitu “Melakukan sesuatu walaupun hal kecil sekalipun untuk
menjadikan mimpi bukan sekadar impian akan tetapi benar-benar bisa menjadi
kenyataan.”. Setelah mendengar cerita mbak Risca, aku belajar bahwa “mbak
tutor” kami ini tak hanya diam menunggu dan membayangkan kapan hari itu dapat
terjadi namun ia sudah mulai bergerak untuk mewujudkannya karena mungkin ia
tahu impian tak datang sendirinya tapi ia sendirilah yang harus berusaha
menggapainya.Wah!
Berbeda
dengan mbak Risca, China bukanlah tujuanku. Akan tetapi mungkin kami punya pendapat
yang sama tentang Scholarship. Tak
perlu satu atau dua tahun, seminggu atau dua minggu itu sudah cukup yaitu
dengan Scholarship. Percakapan kami
pun terus berlanjut membicarakan tentang kemungkinan persyaratan yang akan
diajukan untuk mendapat Scholarship, cara
mendapatkan suntikan dana untuk Scholarship
itu dan langkah-langkah kecil yang harus kita lakukan sebelum melakukannya.
“Eh TOEFL lebih dari 550? IPK dengan angka sekian? Ini itu...? Bisa nggak ya?”
Lagi-lagi “mbak tutor” yang sudah
membimbing kami hampir dua bulan ini meyakinkan bahwa “kami pasti bisa”. “Kunci
utamanya adalah optimis”, ungkapnya. Kami pun menelan ludah dalam-dalam. Seperti
kalimat yang pernah terlontar dari animator ternama yaitu Walt Disney, “Semua
mimpimu akan terwujud asalkan kamu punya keberanian untuk mengejarnya.” Ya itu
benar.
Dari
pertemuan tutorial PAI waktu itu, mungkin aku sedikit tersadar. Sadar bahwa aku
harus membuang semua ketakutan dan rasa pesimis itu. Meyakini bahwa alasan
kegagalanku beberapa waktu lalu mungkin karena ketakutan dan rasa pesimis yang
berlebihan sehingga sekarang tak ada alasan untuk mengulanginya lagi. Salah
seorang menteri AS pun pernah berkata, “Sebuah mimpi dapat terwujud bukan
karena keajaiban, melainkan karena keringat dan kerja keras.” Ya sekaranglah
waktunya. Belum terlambat untuk membangun mimpi itu menjadi hal yang tak
mustahil bagiku. Aku tak ragu lagi menulisnya dalam daftar mimpi makroku. Scholarship? I know I can!
Rabu, 19 November 2014
Ujian Tengah Semester Perdana
Beberapa
minggu lalu, saya dan teman-teman mahasiswa baru yang lain telah selesai
melaksanakan UTS perdana kami. Tentu hal ini menjadi pengalaman baru. Banyak
hal yang terasa berbeda antara bangku perkuliahan dan bangku sekolah. Mungkin
perbedaan yang sangat jelas adalah tak adanya pengaturan jadwal UTS di UNY.
Berbeda dengan universitas lain seperti UGM dan UIN yang telah menggunakan
sistem jadwal. Apalagi ketika di bangku sekolah, sistem jadwal selalu
digunakan. Saya heran mengapa UNY tidak menggunakan jadwal untuk pelaksanakan
UTS dengan hanya memberi rentang waktu selama dua minggu saja. Memang dalam
pengaturannya akan sedikit rumit tapi bukankah jadwal akan memudahkan mahasiswa
untuk mengatur kegiatan belajar mereka. Teman-teman asrama saya yang kuliah di
UIN, mereka bisa berangkat siang dan pulang lebih awal ketika UTS. Tentu saja
hal ini sangat bermanfaat karena akan mempermudah dalam membagi waktu belajar.
Dibanding kita yang harus kuliah full
seperti hari-hari biasa lalu malam harinya kita harus belajar untuk UTS di esok
hari. Disisi lain dalam UTS kemarin, sempat dua kali terjadi miss communication antara dosen dan
mahasiswa mengenai pelaksanaan UTS. Sebelumnya telah terjadi kesepakatan di
antara kami untuk melaksanakan UTS di minggu kedua. Akan tetapi, tiba-tiba di
minggu pertama saat perkuliahan berlangsung, dosen mengumumkan bahwa hari itu
UTS dilaksanakan. Tentu saja saya dan teman-teman belum menyiapkan apa-apa.
Hal kedua
yang terasa berbeda adalah berlakunya sistem Open Book. Saat UTS di bangku sekolah, jangan harap sistem ini bisa
diperbolehkan. Akan tetapi, saya lebih senang menggunakan sistem Close Book karena pasti bobot soal yang
diberikan akan lebih rendah dari pada Open
Book. Mungkin teman-teman yang lain akan lebih senang dengan sistem Open Book karena kita tak perlu
repot-repot belajar. Akan tetapi menurut saya, percuma saja karena bobot soal ketika
Open Book akan lebih tinggi dan
biasanya materinya secara tersurat tidak akan ditemukan di buku. Jadi kita
harus menyimpulkannya secara tersirat.
Perbedaan
ketiga adalah jarak bangku dalam kelas yang berdempetan. Saya ingat bahwa
ketika UTS di SMA, meja masing-masing anak akan dipisahkan sejauh satu meter
sedangkan sewaktu di SMP, murid kelas 1 akan duduk bersebelahan dengan kelas 2
sehingga masing-masing anak pada tingkatan yang sama akan terhalang anak lain
yang berbeda tingkatan jadi kegiatan contek-mencontek bisa diminimalisir. Saya
bukan anak yang suka mencontek maupun diconteki karena pengalaman buruk sewaktu
UN SD yang pernah saya alami. Saat itu saya memberi contekan kepada teman saya
dan sewaktu pengumuman justru saya mendapatkan nilai lebih rendah dari teman
saya itu. Sejak saat itu, saya tidak suka mencontek ketika ujian hingga saya
SMA. Namun semasa UTS kemarin, bodohnya saya karena saya sempat berpikir kalau
mencontek terkadang juga diperlukan. Seperti sewaktu UTS Akuntansi
dilaksanakan, UTS Akuntansi seharusnya dilaksanakan pada minggu kedua akan
tetapi tiba-tiba dilaksanakan pada minggu pertama. Saya belum ada persiapan
sama sekali dan dengan basic IPA yang
saya miliki, saya masih dalam tahap mempelajari akuntansi secara dasar. Dan
ketika dihadapkan dengan kondisi seperti itu, bodohnya saya yang tak percaya
dengan kemampuan saya sendiri. Melihat teman-teman lain yang mulai saling
berdiskusi. Saya pun melakukan demikian. Saya merasa menjadi orang yang
munafik.
Saya merasa
mengkhianati diri saya sendiri di UTS perdana ini. Beberapa mata kuliah tidak
saya kerjakan dengan hasil pemikiran saya sendiri. Saya seperti bukan saya yang
dahulu. Dulu semasa sekolah, sesusah apapun soal ulangan yang saya hadapi maka
insyaAllah saya mengerjakan murni dengan kemampuan saya. Saya pikir percuma
ketika saya mendapat nilai bagus akan tetapi dari hasil mencontek dan akan
lebih baik mendapatkan nilai standar tapi menggunakan otak kita sendiri. Saya
merasa seperti terjadi kemunduran pada diri saya. Saya menyesal melakukan hal
itu dan insyaAllah saya berkomitmen untuk tidak melakukannya lagi ketika ujian.
Amin!
Saya berharap
bisa mendapat nilai yang bagus di UTS kemarin walaupun proses yang saya jalani
sungguh mengecewakan. Saya berharap bisa mengambil pelajaran dari UTS perdana
ini dan semua sisi buruknya bisa saya hilangkan untuk tidak saya lakukan di UAS
yang akan datang. Amin! Fighting!
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



